Selasa, 11 Januari 2011

antara sultan hasanuddin dan aru palaka

09 Januari 1993


Menghapus sebutan penghianat

CAP sudah melekat pada namanya selama bertahun-tahun: pengkhianat bangsa. Itu gara-gara Aru Palaka, raja Bone (1667-1672), bersekutu dengan VOC menghancurkan Kerajaan Goa, yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Tapi, betulkah Aru Palaka yang hingga kini diagung-agungkan masyarakat Bugis itu seorang antek penjajah, sebagaimana tertulis dalam buku- buku pelajaran sejarah di sekolah? Sebuah seminar dua hari di Watampone, Sulawesi Selatan, pekan lalu mencoba menelusuri kontroversi itu. Aru Palaka, menurut buku sejarah di sekolah, adalah seorang bangsawan dari Bone. Ia lahir pada zaman kerajaan-kerajaan lokal sedang bersaing mempertahankan keberadaannya. Aru Palaka terbuka matanya melihat penderitaan rakyat Bone di bawah kekuasaan Kerajaan Makassar (Goa-Tallo) yang dipimpin Raja Hasanuddin. Ribuan orang Bone dipaksa bekerja rodi membangun parit di benteng-benteng pertahanan Goa untuk menghadapi serbuan Kompeni. Antipati Aru Palaka pada Kerajaan Goa memuncak karena ayah dan pamannya dibunuh tentara Goa. Ia dan sekitar 400 pengikutnya terpaksa lari dan minta suaka ke Buton setelah Kerajaan Bone diserbu Makassar. Dendam inilah yang mendorong Aru Palaka -- walau bukan putra mahkota Bone -- berambisi menjadi raja dengan memerdekakan Kerajaan Bone dari kekuasaan Goa. Langkah pertama, Aru Palaka yang digambarkan berbadan tegap dan menyelipkan pedang di pinggangnya berlayar ke Batavia untuk menjalin kerja sama dengan Belanda. Aru Palaka dan anak buahnya kemudian memperkuat armada Cornelis Speelman yang bertolak dari Batavia untuk menggempur Kerajaan Goa. Lewat Perang Makassar itu, Aru Palaka berhasil memerdekakan Bone. Sultan Bone yang ditahan Hasanuddin pun dibebaskan. Dan cita-citanya kesampaian setelah Sultan Bone menyerahkan mahkotanya kepada Aru Palaka. Perang yang berlangsung setahun itu (1666-1667) berakhir dengan Perjanjian Bongaya. Hasilnya, Kerajaan Makassar harus melepaskan hak monopoli perdagangan kepada Kompeni dan memberikan kemerdekan bagi kerajaan-kerajaan yang pernah dikuasainya seperti Bone, Sopeng, dan Luwu. Namun, interpretasi sejarah Aru Palaka seperti itu dinilai beberapa sejarawan sendiri kurang tepat.

Dalam seminar itu sejarawan Abdurahman Soerjomihardjo, misalnya, mengungkapkan telah terjadi anakronisme dalam penulisan sejarah Perang Makassar. Para penulis sejarah telah melakukan tafsiran yang tak sesuai dengan ruang dan waktu peristiwanya. Dalam sejarah Perang Makassar itu, kata ahli sejarah dari LIPI itu, konflik Kerajaan Bone dan Goa tak lepas dari persaingan kepentingan para aktor yang terlibat seperti Hasanuddin, Aru Palaka, dan Speelman. Faktanya, katanya, Goa atau Bone, seperti halnya kerajaan lain yang kini bergabung dalam wilayah Indonesia, adalah negara merdeka. Bone mau merdeka dari penjajahan Goa, dan Belanda mau merebut monopoli perdagangan laut dari tangan Goa.

Dalam konteks zaman itu, strategi politik Aru Palaka yang beraliansi dengan Kompeni untuk meraih kemerdekaan bisa dipahami. Belanda adalah kekuatan yang bisa diandalkan, dan sama-sama memusuhi Kerajaan Goa. ''Yang terpenting adalah bagaimana dia bisa menjawab tantangan kala itu secara tepat. Toh waktu itu belum ada konsep wawasan nusantara,'' kata Anhar, seorang peneliti dari Lemhanas. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah Bone merdeka, Aru Palaka toh tak lagi ingin membalas dendam rakyat Bugis atas perlakuan Kerajaan Makassar sebelumnya. Bahkan, Aru Palaka setelah diangkat menjadi raja Bone pun, dan menjadi ''koordinator'' kerajaan- kerajaan di Sulawesi Selatan, tak memanfaatkan kesempatan untuk memperluas wilayah kerajaannya. Aru Palaka, seperti terungkap dalam seminar itu, beberapa kali melakukan pembangkangan terhadap Belanda.

Meski begitu, masih banyak soal yang belum bisa dituntaskan selama dua hari berseminar. Ada pertanyaan yang mengganggu: Betulkah kerja sama itu sejajar? Dan siapa yang membantu menjatuhkan Goa? ''Kalau ternyata Aru Palakalah yang membatu Belanda menjatuhkan Goa, artinya ia antek Belanda. Tapi bisa juga sebaliknya. Ia yang punya inisiatif, dan dibantu Belanda yang punya motif ekonomi,'' kata Anhar. Yang tak kalah penting adalah pertanyaan yang dilontarkan peserta lain, Mukhlis. ''Mengapa di saat kerajaan-kerajaan lokal perang melawan kekuatan asing justru ia bermesraan de- ngan Belanda?'' katanya. Apalagi, tambahnya, kerja sama itu telah menghancurkan tatanan sosial ekonomi yang dibangun Kerajaan Goa. Perkembangan ilmu pengetahuan seperti astronomi dan persenjataan mandek setelah Goa jatuh. Sebuah harga yang mahal untuk penghancuran Sultan Hasanuddin, seorang tokoh yang dikenal sebagai ''Ayam Jantan dari Timur'' itu. Seminar ini memang tak menggugat kepahlawanan Sultan Hasanuddin sendiri, yang disebut gigih melawan Kompeni. Na- mun, sempat para peserta seminar -- sebagian besar orang Bugis -- kelewat menggebu mengangkat tokoh Aru Palaka. Sampai-sampai ada yang mengusulkannya menjadi pahlawan nasional. Tentu tuntutan itu masih jauh untuk disetujui. Tapi, lumayan pula hasilnya, karena dalam seminar itu disepakati soal penghapusan sebutan pengkhianat yang melekat pada Aru Palaka. Dan lagi, tampaknya seminar itu juga membuka mata para pakar sejarah agar berani mempertanyakan kembali berbagai peris- tiwa yang tercatat dalam sejarah yang resmi selama ini. Ardian Taufik Gesuri (Watampone)

majalah.tempointeraktif.com/.../mbm.19930109.ILT6108.id.html (12/1/2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar